Danau-Tondano2
Danau Tondano

BANYAK orang mengenal Danau Tondano dan Danau Limboto. Menyebut Danau Tondano, pikiran orang tertuju pada objek wisata eksotik di jazirah utara Pulau Sulawesi. Danau Limboto,menjadi ‘’land mark’’ Kota Gorontalo. Namun, tidak banyak yang tahu, kalau dua danau itu sedang mengalami degradasi daya dukung lingkungan serius. Ini berarti sumber kehidupan di Tondano dan Limboto terancam.

Pendangkalan akibat sedimentasi serta pengundulan hutan tak terbendung di seputaran Daerah Aliran Sungai (DAS), terus menggerus fungsi Tondano dan Limboto. Belum lagi, laju pertumbuhan gulma air (eceng gondok) yang tak bisa dibendung menutup permukaan danau. Padahal, di hamparan air kolam alamiah ini menjadi sumber rezeki masyarakat berupa ikan, dan aneka biota, sumber air baku dan irigasi, serta pembangkit listrik menerangi hampir sebagian besar wilayah Sulawesi Utara.

Danau Tondano berada di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Danau ini dimuarai Sungai Tondano dan 34 sungai lainnya.

Peneliti Euthalia Hanggari Sittadewi (2008) dari Pusat Teknologi Lahan Kawasan dan Mitigasi Bencana, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menyatakan luas perairan Danau Tondano bervariasi yakni sekitar 46 km2 pada musim kemarau dan 51 km2 pada musim hujan, sedangkan lingkaran Danau Tondaano pada posisi normal sekitar 35,5 km.

Danau yang memiliki permukaan air berwarna biru ini juga mengemban fungsi sebagai sumber air waduk, yang juga merupakan sumber air baku terutama untuk pendudukan Kota Manado dan Kabupaten Minahasa. Danau ini juga berkontribusi pada produksi perikanan darat yang bisa menghidupi ribuan nelayan di sekitarnya.Selain menjadi salah satu objek wisata, Danau Tondano juga menjadi sumber air pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Tanggari yang dibangun pemerintah Jepang pada 1950 dengan kapasitas 51.000 kw. Sementara Danau Tondano juga memberikan kontribusi untuk irigasi persawahan.

Pendangkalan dan gulma air juga menjadi masalah utama Danau Limboto, padahal Danau yang terletak di tengah Provinsi Gorontalo ini memberi sumber penghidupan sebagian masyarakat Gorontalo. Dari tahun ke tahun, problem sedimentasi hampir tidak mampu diatasi.

Seperti Danau Tondano, Danau Lomboto juga mempunyai fungsi sangat vital terutama masyarakat Kota Gorontalo karena 30 persen arel danau ini menempati wilayah Kota Gorontalo, sedangkan 70 persen di Kabupaten Gorontalo. Danau yang merupakan cekungan rendah atau laguna ini terintegrasi dengan DAS Limboto, bagian dari Satuan Wilayah Pengelolaan DAS Bone Bolango. Hampir semua sungai besar di hulu Gorontalo bermuara ke Sungai Limboto. Ancaman bagi Danau Limboto, berarti juga mengancam kelangsungan potensi dan sumber penghidupan sebagian masyarakat Kota Gorontalo.

Luas Danau Limboto, berdasarkan data studi JICA (2008) tercatat 2.537,152 ha dengan kedalaman 2-2,5 meter. Sedangkan luas genangan air mencapai 2.168 ha dengan volume sekitar 23.532.919 m3. Sementara luas daerah tangkapan air Danau Limboto diperkirakan sekitar 900 km2.

Perairan Danau Limboto dikelilingi 23 desa di empat kecamatan di Kabupaten Gorontalo, dan dua kelurahan di Kota Gorontalo, dan dihuni sekitar 2000 nelayan mengantungkan hidup di Danau Limboto. Danau Limboto juga menyimpan 17 spesies ikan, di antaranya sembilan jenis ikan asli dan delapan jenis ikan introduksi.

Problem Ekologis Tondano

Kini Danau Tondano mengalami problem kerusakan ekologis yang serius. Sedimentasi akibat tingginya erosi di DAS Tondano dan pemanfaatan lahan, menyebabkan laju pendangkalan tak bisa dibendung.

Berdasar data Badan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT) Tondano , pada tahun 1934, Danau Tondano masih memiliki kedalaman 40 meter, maka pada tahun 1996 berkurang menjadi 15 meter. BRLKT mencatat dari tahun 1934 hingga 1974 kedalaman Danau Tondano dari 40 meter menjadi 28 meter. Dari 1974 hingga 1983 agak lamban pendangkalanya karena hanya berkurang satu meter. Namun dalam rentang waktu 1983 hingga 1987, berkurang menjadi 20 meter, dan tahun 1996 kedalaman Danau Tondano tinggal 15 meter.

Erosi dan sedimentasi menjadi penjebab pendangkalan di wilayah DAS. Pembukaan lahan adalah salah satu pemicu terjadinya erosi. Saat komoditi cengkeh menjadi primadona, masyarakat berlomba mengonversi hutan menjadi kebun cengkeh, hingga luas hutan dan fungsi hutan terus berkurang.

Selain itu, penggunaan pupuk kimia  di wilayah pertanian yang memiliki akses langsung ke Danau Tondano,  berdampak pada berkurangnya biota danau trmasuk ikan. Sebaliknya tersalurnya bahan-bahan organik berupa sampa rumah tangga, indusri peternakan dan pakan ikan dari sekitar 7000 usaha perikanan di Danau Tondano, berkontribusi negatif terhadap kesuburan air  Danau Tondano. Akibatnya, pertumbuhaan gulma air berupa tumbuhan enceng gondok tidak bisa dibendung dan diatasi.

Sekitar 20 persen luas danau pun ditutupi eceng gondok. Tumbuhan air ini  menjadi ancaman karena menutup penetrasi cahaya ke dalam air, akarnya mengikat berbagai zat dan organisme berbahaya sehingga bisa mematikan biota-biota danau, serta organisme itu bisa bertumpuk menjadi sedimen.

 Problem Ekologis Limboto

???????????????????????????????
Danau Limboto

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup (2008) menyatakan Danau Limboto mengalami pendangkalan dengan intensitas yang tinggi sehingga danau itu mengalami penyempitan yang cepat. Selain itu, danau ini mengalami pencemaran akibat  limbah pertanian dan perikanan.

Setiap tahun rata-rata luas danau berkurang 65,89 ha. Dengan demikian hingga tahun 2025, Danau Limboto diprediksi akan menjadi daratan.

Berdasarkan data KLH tersebut, pada tahun 1932 kedalaman Danau Limboto mencapai 30 meter dengan luas 8.000 ha. Pada tahun 1970 danau ini berkurang hampir 50 persen dengan luas 4.500 ha dan kedalaman berkurang tinggal 15 meter. Pada tahun 1993, Danau Limboto merosot lagi tinggal 3.057 ha dengan pendangkalan mengakibatkan kedalaman danau tinggal lima meter . Danau Limboto terus berkurang hingga pada 2007 danau ini tinggal memiliki luas 2.537 ha degan kedalaman tersisa sekitar 2,5 meter.

Problem gulma air eceng gondok juga merupakan salah satu masalah utama Danau Limboto. Hampir 70 persen permukaan danau ditutupi tumbuhan liar yang subur itu. Eceng Gondok malah bergerak mengapung di permukaan danau yang mengikuti arah angin.

Akumulasi persoalan ekologis ini berdampak pada penurunan produksi perkinanan secara drastis. Data Dinas Perikanan Gorontalo menunjukkan antara 1977-2007 perikanan di Danau Limboto menurun hingga 79 persen.

Bukan hanya produksi ikan yang menurun, tetapi diikuti juga punahnya jenis ikan asli Danau Limboto seperti Mengaheto (sejenis bobara merah) Batua (mujair putih tanpa sisik) Bulaloa (bandeng putih bertulang sedikit), Boidelo (menyerupai tuna  berwarna abu-abu). Kini ikan yang tersisa di Danau Limboto adalah mujair, nila, dan gabus. Salah satu penyebab menurunya produksi dan punahnya ikan asli karena eksploitasi sumber daya perikanan berlebihan, serta pencemaran lingkungan.

Selain itu, degradasi hutan di DAS Limboto juga menyumbang terancamnya Danau Limboto. Hutan yang tersisa di DAS Limboto, sesuai data Departemen Kehutanan tinggal 16 persen, ini berarti di bawah standar minimal 30 persen. Belum lagi DAS ini mengemban lahan kritis mencapai 26.097 ha.

Kondisi ini memicu tingginya potensi erosi di DAS Limboto yang pada 2008 mencapai 9.902.588 ton setiap tahun atau rata-rata 108,81 ton/ha setiap tahun. Dari potensi ini kemudian berdampak pada tingkat sedimentasi 0,438 mm per tahun.

Selain itu, problem Danau Limboto juga karena okupasi lahan yang cukup tinggi. Wilayah danau diokupasi untuk menjadi lahan pemukiman dan budidaya perikanan. Ekspansi lahan ini kemudian menimbulkan konflik antarmasyarakat karena berebut kawasan-kawasan di sekitar dan di dalam Danau Limboto.

Berbagai Upaya

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan dan melestarikan Danau Tondano dan Danau Limboto. Berbagai proyek telah dimuarakan, tetapi tampaknya laju kerusakan dua danau ini belum juga bisa diantisipasi secara tuntas.

Pemerintah bahkan telah menetapkan DAS Tondano sebagai salah satu DAS prioritas, sebelum danau Tondano menjadi danau prioritas. Namun, banyak sudah anggaran yang diserap, sementara problem Tondano belum juga bisa diatasi.

Enam tahun lalu, masyarakat dan parapihak telah membentuk Forun Komunikasi Pengelolaan DAS Tondano. Namun, forum ini juga kemudian tidak bisa memberikan kontribusi maksimal perbaikan DAS dan Danau Tondano. Bahkan forum ini kemudian mendeg dan, seperti diberitakan jurnalcelebes.org, 7 Maret 2012 lalu, forum ini kembali melakukan konsolidasi salah satu tujuannya adalah menegaskan petujunjuk pelaksanaan forum disamping untuk mempercepat pengesahan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) DAS Tondano.

Upaya yang juga belum membuahkan hasil telah dilaksanakan pemerintah dan masyarakat Gorontalo untuk menyelamatkan Danau Limboto. Namun, seperti berbagai upaya penyelematan danau pada umumnya, tidak membuahkan hasil maksimal, bahkan nihil.

Pemerintah Provinsi Gorontalo bahkan telah mengeluarkan regulasi penyelamatan Danau Limboto lewat Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2008 tentang pengelolaan Danau Limboto. Tetapi, ancaman terhadap Danau Limboto belum juga bisa diatasi. Berbagai pihak secara regular terlibat membersihkan Danau Limboto dari eceng gondok, tetapi pertumbuhan gulma air yang luar biasa ini tak mampu diatasi.

Terakhir, April 2012 lalu, Danau Tondano kembali memperoleh bantuan berupa kapal penyapu eceng gondok. Bantuan sarana yang menyerupai tug boat kecil ini diberikan PLN. Bantuan perusahaan listrik negara tersebut diserahkan Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan kepada Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo H. Sarundajang, 5 April 2012. Kapal ini akan dijalankan di atas danau yang dipenuhi eceng gondok. Kapal ini mengangkat dan mengumpulkan eceng gondok. Belum juga bisa dipastikan, apakah peralatan mengatasi gulma air di Danau Tondano ini juga nantinya tidak membuahkan apa-apa dan lambat laun menjadi besi tua?

Lalu, apa solusi yang mampu meminimalisasi kerusakan Danau Tondano dan Danau Limboto? Mungkin pemerintah, masyarakat berbagai pihak yang selama ini sudah melakukan upaya penyelamatan, mesti berkonsolidasi kembali dan mengevaluasi capaian dan kegagalan. Perbaikan kualitas dan daya dukung lingkungan hidup merupakan solusi terbaik menghadapi erosi dan sedimentasi. Mesti ada keseriusan mengubah eceng gondok menjadi tumbuhan bernilai ekonomis. (Mustam Arif/tulisan ini juga dimuat di Majalah Sinergi Hijau)

Iklan