Danau-Tempe2KESOHORAN Danau Tempe tidak seindah alunan dan makna filosofis lagu Bugis Bulu’ Alua’na Tempe (Ketika berada di atas gunung sebelah timur Danau Tempe). Sedimentasi luar biasa menyebabkan danau ini berubah menjadi daratan setiap tahun. Degradasi ekologis Danau Tempe juga mendatangkan banjir setiap tahun yang mesti diderita masyarakat sekitar danau. Danau yang menjadi sumber rezeki penduduk perlahan-lahan berkurang dan terancam karena kerusakan lingkungan.

Secara alamiah, Danau Tempe terbentuk dari proses geologis seumur daratan Sulawesi Selatan. Danau Tempe terintegrasi dalam tiga danau yakni Danau Sidenreng, Danau Taparang Lapompaka, dan Danau Labulang.

Danau Tempe menempati wilayah di tiga kabupaten. Bagian danau terluas terletak di Kabupaten Wajo yakni empat kecamatan masing-masing Tempe, Sabbangparu, Tanasitolo dan Belawa. Sebagian menempati Kabupaten Soppeng di Kecamatan Marioriawa dan Donri Donri. Sementara yang lainnya di Kabupaten Sidrap yakni di Kecamatan Pancalautan.

Hasil penelitian Nippon Koe (2003) menggambarkan Danau Tempe merupakan daerah tangkapan (catchement area) dari Sungai Bila dan Sungai Walanae yang terbentuk dari Sungai Boya, Lansirang dan Kalola. Sungai-sungai ini bermuara ke Danau Tempe dari sebelah utara. Sungai Walanae bermuara ke danau dari selatan terbentuk dari Sungai Langkeme, Belo, Mario, Menlareng dan Sanrego. Tiga sungai kecil mengalir secara langsung ke dalam danau, yaitu Lawo, Batu batu dan Biloka. Pada elevasi 6 meter di atas permukaan laut, Danau Tempe terpisah dari Danau Buaya dan Danau Sidenreng, tetapi pada musim hujan danau ini bersatu ke dalam suatu Danau Tempe yang mencakup sekitar 30,000 hektar. Sepanjang periode kemarau, danau menyusut lagi menjadi 10,000 hektar atau pada musim  kemarau panjang, bahkan sampai 1,000 – 5,000 hektar.

Sesuai data Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kabupaten Wajo, Danau Tempe dahulu menjadi salah satu sumber mata pencarian masyarakat di tiga kabupaten. Hingga akhir 1960-an, Tempe masih dikenal sebagai salah satu sentra produksi perikanan air tawar di Indonesia. Produksi ikan rata-rata mencapai 50.000 ton pert tahun. Namun, di awal tahun 2000-an, produksi ikan merosot menjadi  sekitar 17.000.

Danau-Tempe1

Banyak daerah lain mengenal Danau Tempe sebagai sumber penghasil ikan air tawar. Produksinya sampai diantarpulaukan. Mungkin dengan potensi itu kemudian Danau Tempe dianalogikan sebaagai mangkuk ikan di Indonesia.

Sedimentasi dan Gulma Air

Anjloknya manfaat ekonomi Danau Tempe diakibatkan kerusakan ekologis. Sedimentasi (pendangkalan) adalah masalah utama saat ini, selain ekspansi tumbuhan air eceng gondok.

Pendangkalan setidaknya ada dua penyebab dari permasalahan besar tersebut yang sangat kompleks dan terkait dengan masalah-masalah lain di Danau Tempe yaitu sedimentasi dan pencemaran.Data Bappeda Wajo (2000), total sedimen yang masuk ke Danau Tempe adalah 1.069.099 juta m3, sementara yang dikeluarkan melalui Sungai Cenranae adalah 550.490 juta m3. Dengan demikian sisa sedimen yang mengendap di dasar danau sebesar 518.609 juta m3. Jika setiap tahunnya sedimen ini tidak keluar dan terus mengendap, akan terjadi proses pendangkalan danau setinggi 0,37 cm.

Sementara sesuai hasil penelitian dari Japan International Cooperation Agency/JICA (1993) menunjukkan bahwa setiap tahun terjadi pendangkalan berkisar 15- 20 cm. Dengan kondisi itu, diperkirakan 100-200 tahun kemudian Danau Tempe akan menjadi daerah dataran.

Ancaman utama mendukung pendangkalan Danau Tempe juga adalah tingginya pertumbuhan gulma air (eceng gondok) yang menutupi permukaan danau hingga mencapai  40 persen. Tumbuhan air ini akarnya mencapai dasar danau dan menjadi perangkap sedimen kemudian mengendapkan di dasar danau. Pada saat memasuki musim kering dimana danau semakin sempit karena air sudah turun, hal ini menyebabkan permukaan danau akan tertutupi sampai 90 % oleh gulma air ini.

Kondisi  ini kemudian dimanfaatkan para nelayan yang memasang sarana pemeliharaan ikan (bungka toddo) dari eceng gondok dan kangkung, akan menutupi sebagian besar permukaan danau dan menyulitkan jalur nelayan yang menggunakan perahu. Kebiasaan masyarakat ini tidak jarang menimbulkan konflik antara nelayan pemilik bungka toddo.

Selain sedimentasi, kerusakan lingkungan di Danau Tempe juga diakibatkan oleh pencemaran. Bappedal Wilayah III (200) melaporkan sumber pencearan air Danau Tempe berupa kegiatan rumah tangga yang menghasilkan bahan buangan organik. Selain itu, kegiatan pertanian seperti penggunaan pestisida dan pupuk kimia, industri kayu dan perabot, industri percetakan. Bahan buangan dari industri berupa buangan padat, organik, olahan makanan dan zat kimia.

Dengan menurunya kualitas lingkungan perairan Danau Tempe akan mempengaruhi daya dukung organisme. Dengan demikian, beberapa satwa dan biota yang hidup tergantung pada air, akan terancam.

Salah satu jenis satwa yang memberikan mata pencarian masyarakat sekitar Danau Tempe adalah burung belibis atau dikenal dengan sebutan cawiwi, serta ikan endemik bunga, beladak dan sidat. Jika dulu satwa-satwa ini melimpah, lambat laun mulai berkurang dan kini menjadi langka.

Belum Mampu Diatasi

Upaya meminimalisasi degradasi Danau Tempe belum juga mampu diatasi. Berbagai macam program telah mengair ke Danau Tempe. Setumpuk penelitian pun sudah dilakukan berbagai pihak. Tetapi, selalu saja inisiatif dan upaya itu sebagian hanya meningalkan bekas-bekas kegagalan.

Maret 2012 lalu, pelaksanaan proyek pembangunan Bendung Geral Tempe melaksanakan Pertemuan Konsunasi Masyarakat (PKM). Pertemuan ini untuk menyosialisasikan manfaat bendung gerak dalam tahap pembangunan saat ini. Tiga kabupaten hadir dalam acara itu, yakni Soppeng, Bone, dan Sidrap. Semoga upaya ini juga tidak menyusul kegalalan dan ketidakjelasan setumpuk proyek Danaau Tempe lainnya yang sudah dilaksanakan.

Tahun 2008 lalu Pemerintah Pusat melalui Departemen Pekerjaan Umum mengucurkan dana sebesar Rp 180 miliar untuk revitalisasi Danau Tempe mulai dari hulu hingga hilir. (Ujungpandang Ekspres, 20 Agustus 2008). Pelaksana tugas Bupati Wajo ketika itu, A. Idris Syukur menyatakan revitalisasi Dana Tempe akan melibatkan pemerintah provinsi dan kabupaten. Pembenahan harus dilakukan secara cepat bagi setiap bagian yang dinilai perlu perbaikan, misalnya penghijauan di pantai dan perbaikan bendungan.

Secara logis, anggaran Rp 180 miliar mustahil mampu merevitalisasi Danau Tempe dari hulu dan hilir yang melingkupi sekitar lima kabupaten. Lalu pertanyaan kemudian, sejauh  mana kucuran-kucuran anggaran tersebut dan apa manfaatnya bagi upaya penyelamatan dan pelestarian Danaau Tempe?

Hal yang perlu dipahami dan disadarai adalah upaya menyelamatkan Danau Tempe tidak bisa hanya dilakukan lewat kucuran dana secara sporadis baik dari pemerintah daerah, provinsi maupun pemerintah pusat. Tempe mesti diselamatkan dan dikelola lewat konsep ekoragion yang menuntut semua pihak harus memiliki tujuan daan komitmen yang sama. Penyelamatan Danau Tempe mesti dilakukan dalam pola yang terintegrasi. Kesadaran hulu-hilir mesti dibangun bersama dengan membedayakan masyarakat, karena Danau Tempe menjadi sumber penghidupan masyarakat beberapa kabupaten.

Jika tidak dibangun secara parsial, Danau Tempe yang pernah berjuluk ‘’mangkuk ikan’’ ini perlahan-lahan akan menuju pada keadaan dimana danau itu akan lenyap. Itu berarti menuju pada kehilangan mata pencarian masyarakat dan julukan mangkok ikan suatu saat bisa menjadi ‘’piring korong. ‘’ (Mustam Arif/tulisan ini sebelumnya dimuat majalah Sinergi Hijau Pusat Pengelolaan Ekoregion Sulawesi, Maluku, Papua)

Iklan