Danau-Matano
Danau Matano

DANAU Matano dan Danau Poso, tidak separah kerusakan Danau Tempe, Danau Tondano dan Danau Limboto. Tetapi mengapa dua danau ini juga masuk dalam 15 Danau Prioritas oleh pemerintah? Tanpa merujuk pada kriteria, mungkin keunikan dan keindahan kedua danau menjadi pertimbangan untuk perlu diselamatkan dan dilestarikan. Keduanya sama-sama danau tektonik dengan kedalaman maksimal dan memiliki biota endemik dan mitios-mitos.

Danau Matano dan Danau Poso lebih tersohor sebagai objek wisata. Bila berkunjung ke Sulawesi, selain Danau Tondano di Sulawesi Utara, para pelancong akan mengalokasikan kesempatan untuk mengunjungi Danau Poso dan Danau Matano. Air biru dan jernih, Danau Matano juga dihiasi delapan pulau kecil di tengahnya yang menambah keindahan danau ini.

Matano Danau Purbawi

Danau Matano berada di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Danau tektonik ini terbentuk sekitar empat juta tahun yang lalu akibat pergerakan lempeng kerak bumi. Danau Matano terintegrasi dengan empat danau lainnya di Luwu Timur masing-masing Danau Towuti, Mahalona, dan serta dua danau kecil Wawantoa atau Lantoa dan Masapi, sehingga disebut sebagai Kompleks Danau Malili.

Areal Danau Matano sekitar 130 kilometer persegi. Kedalaman maksimal danau ini mencapai 594 meter karena itu Matano merupakan salah satu danau terdalam di dunia dan danau terdalam di Indonesia. Danau Matano dengan keempat danau lainnya dikelilingi bukit-bukit. Sejumlah sungai kecil bermuara ke Danau Matano.

Gugusan Danau Kompleks Malili berada di ketinggian antara 500 hingga 700 meter dari atas pemukaan laut (dpl). Danau Matano berada pada ketinggian tertinggi sedangkan Danau Towuti berada di posisi paling rendah yang berfungsi sebagai muara.

Karena memiliki karakteristik unik, Matano sangat diminati para ilmuan untuk melakukan penelitian dan pengkajian. Pada kedalaman lebih dari 100 meter dasar danau, tidak memiliki oksigen atau bersifat anoksik. Kandungan bahan organik dan inorganik, baik yang larut maupun yang tersuspensi sangat rendah. Sebaliknya, kandungan besi (Fe) sangat tinggi pada kedalaman 100 m hingga dasar perairan. Hal ini menciptakan lingkungan yang sempurna bagi berkembangnya bakteri sulfur-hijau yang bersifat fototrof di lingkungan yang hampa oksigen.

Selain kondisi fisik dan kimiawi-nya yang unik, danau Matano juga menjadi laboratorium alam yang penting bagi peneliti biologi. Posisi danau yang terisolasi jutaan tahun menyebabkan jenis flora-fauna di Matano menjadi sangat unik dan tidak ditemukan ditempat lain.

Di danau ini terdapat 30 jenis ikan, 60 spesies keong (moluska) air tawar, tiga jenis kepiting, 10 jenis udang, beberapa jenis sponges (bunga karang) air tawar. Beberapa jenis ikan diantaranya tergolong endemik. Demikian juga dengan tujuh spesies tumbuhan juga tergolong endemik.

Danau Poso, Antara Naga dan Alien

Danau-Poso
Danau Poso

Danau Poso juga merupakan danau tektonik. Danau yang berada di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah ini merupakan salah satu danau terluas di Indonesia

Danau ini memiliki luas 39.890 ha, dengan panjang garis pesisir 127 km. Sebagai danau terbentuk tektonis, Danau Poso juga memiliki kedalaman hingga mencapai 384,6 meter.

Seperti halnya Danau Matano, Danau Poso yang juga terisolasi jutaan tahun menjadikan danau ini memiliki keunikan ekosistem dan biota-biota.  Selain itu, Danau Poso juga dibarengi dengan mitos-mito yang makin nenambah daya tarik danau ini sebagai objek wisata.

Danau Poso menyimpan jenis ikan endemik, antara lainikan Anasa, Rono dan Bungu. Selain itu jenis ikan Sidat atau dalam bahasa lokal setempat dikenal dengan nama Sogili yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena selain memiliki keunikan juga dagingnya sangat lezat. Sogili adalah jenis belut dengan corak yang khas dan berukuran agak besar.

Mesti memiliki ikan khas dan endemik, bukan berarti tidak ada jenis Danau Poso tidak memiliki ikan jenis lain. Di danau ini juga terdapat ikan mas, ikan nila dan nilem. Jenis ikan umum ini diintroduksi atau dikembangkanbiakkan dengan didatangkan dari luar Danau Poso.

Di antara ikan introduksi tersebut, terdapat sejenis ikan yang menurut masyarakat setempat tiba-tiba ada dan tidak diketaui dari mana asalnya. Jenis ikan ini diperkirakan berkembang biaksekitar 2011 lalu. Ikan dengan ukuran maskimal 11 cm ini tampaknya membiak dengan cepat.

Karena jenis ikan ini hadir seperti hewan atau makhluk asing maka kemudian dijuluki sebagai mahluk asing atau Alien. Namun, masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Ikan Erik.

Hasil Penelitiaan Tim Riset Danau Poso (2012) dari Balai Penelitian Perikanan Perairan Umum Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan, menganalisa ikan air ini merupakan jenis Cichlid Fish berasal dari Afrika tepatnya dari Danau Nyasa atau Danau Malawi yang merupakan salah satu danau terdalam di dunia. Di Indonesia sang alien dikenal dengan nama Ikan Niassa. Habitat asli ‘’alien’’ Danau Poso adalah di Danau Malawi dengan perairan yang berbatu.

Selain memiliki ikan endemik dan ikan Erik, Danau Poso juga dihiasi cerita-cerita mistik. Salah satu cerita mistik itu dikenal dengan cahaya atau lampu naga.

Konon pada malam-malam tertentu, ada cahaya menyerupai lampu petromax di tempat tertentu di perairan Danau Poso. Cahaya itu berpindah-pindah dan menghilang jika kita berada di dekatnya. Para nelayan di Danau Poso sudah memastikan, jika fenomena ini muncul di danau, pertanda mereka tidak akan memperoleh hasil tangkapan.

Sebagian masyarakat sekitar Danau Poso menganggap bahwa cahaya lampu berpindah-pindah berasal dari seekor naga yang merupakan penjaga danau. Cahaya itu akan muncul, atau sang penjaga menampakkan caya bila ada perbuatan tidak layak dilakukan oleh para nelayan, atau orang-orang berkunjung ke danau, misalnya menangkap ikan dengan cara yang tidak wajar atau berlebihan.

Ancaman Kelesarian Danau

Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan Danau Matano terancam kelestariannya dari sedimentasi dan pencemaran air, serta limbah pertambangan, terutama beroperasinya perusahaan multinasional PT Inco di Sorowako. Kondisi ini akan mencemari air danau dan akan mengancam ikan dan biota-biota endemik.

Sementara Danau Poso juga terancam sedimentasi pada bagian selatan sekitar Pendolo. Pembangunan pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bila tidak dikendalikan akan mengancam kelestarian biota. Selain itu penangkapan ikan sidat (sogili) tanpa kendali juga akan mengancam kepunahan biota endemik ini.

Di Matano, sesuai daftar merah tentang spesies-spesies terancam punah dari International Union for Conservation of Nature/IUCN (2010) yang dikutip http://dody94.wordpress.com, ikan endemik tergolong rentan terhadap kepunahan. Ikan-ikan endemik di Matano akan menghadapi ancaman kepunahan yang tinggi

Danau Matano juga dimanfaaatkan masyarakat sumber air, tempat rekreasi dan tempat mencari nafkah. Dengan demikian, adanya introduksi ikan asing untuk kebutuhan konsumsi, buangan limbah dan pembangkit listrik (power plant) dari PT Inco di Sorwoako, dapat mengancam kelestarian spesies endemik di danau Matano. Adanya sedimentasi diakibatkan oleh berkuragnya tutupan hutan di areal-areal hulu dari sungai-sungai yang bermuara ke Matano.

Ancaman serius juga bakal menimpa Danau Poso bila kerusakan lingkungan tidak bisa dijaga. Selain itu okupasi lahan untuk pemukiman dan usaha perikanan di Danau Poso juga menjadi ancaman kelesatrian danau ini ke depan.

Sebelum mengalami degradasi dan kerusakan yang parah, Danau Matano dan Danau Poso mesti mendalami pengalaman Danau Tempe, Danau Tondano dan Danau Limboto. Pemerintah daerah di Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Poso mesti memanfaatkan momentum Danau Prioritas ini untuk membangun sinergitas menyelamatkan danau Matano dan Danau Poso.

Kedua danau ini memiliki keunikan karenanya kehadiran ‘’Alien’’ perlu dikendalikan agar tidak mematikan ikan endemik Danau Poso. Mitos ‘’lampu naga’’ sebagai potensi kearifan lokal yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga kelestarian danau.

PT International Nickel Indonesia Tbk (Inco) sebagai perusahaan multinasional yang punya peran besar mengurangi tutupan hutan di Luwu Timur lewat areal konsesi, mesti punya komitmen riil menyelamatkan Danau Matano, tidak sekadar pencitraan berupa penelitian dan penanaman pohon berlebel program CSR. Usaha industri kayu milik masyarakat di pesisir danau juga mesti dikendalikan untuk tidak terus-menerus mencemari Matano. (Mustam Arif/tulisan ini pernah dimuat di Majalah Sinergi Hijau)

Iklan