Tanggal 22 April ditetapkan menjadi Hari Bumi. Penetapan Hari Bumi dimotori  seorang Senator Amerika Serikat, Wisconsin Gaylord Nelson, tahun 1970. Gagasan ini lahir dari perjuangan kelompok-kelompok pelestarian lingkungan hidup sejak tahun 1960-an, dan memuncak pada demonstrasi besar-besaran di tiga kota masing-masing di Lapangan Seattle New York, Washington, dan San Fransisco, oleh kelompok pejuang pro lingkungan dan masyarakat Amerika Serikat, pada 22 April 1970. Momentum tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Bumi.

Penetapan Hari Bumi merupakan sebuah momentum kesadaran umat manusia untuk memelihara bumi dari proses menuju kehancuran.  Mengapa planet ini bisa berproses menuju kehancuran? Itu karena manusia tidak bijaksana mengelola bumi.

Ratusan tahun umat manusia berlomba-lomba membangun peradaban yang digerakkan oleh kekuatan ilmu pengetahuan dan perburuan ekonomi menuju kesejahteraan… Dalam derap peradan itu, manusia mengekploitasi sumber daya alam dengan tidak memertimbangkan kelanjutan ekologis. Proses peradaban telah menghancurkan ekosistem bumi. Beratus-ratus tahun menusia terlena mengeruk keuntungan di perut dan punggung bumi.

Tiga puluh tahun lalu, warga Amerika Serikat memotori sebuah tonggak kesadaran, bahwa bumi tempat membiaknya manusia mesti dipelihara.  Sebauh kesadaran bahwa perebutan ekonomi yang dimotori ekspansi industri, terutama dari negara-negara maju, telah berkontribusi besar dalam terdegradasinya kondisi bumi .

Ekspansi industri telah mengeksploitasi bahan bakar berbasis fosil alias bahan bakar minyak  serta memacu  produk industri menggunakan bahan bakar minyak. Produksi kendaraan bermesin menggunakan bahan bakar fosil berlebihan telah member dampak besar pada kerusakan ozon yang menimbulkan panas bumi meningkat luar biasa.

Tiga puluh tahun kemudian setelah  penetapan Hari Bumi, umat manusia kembali kembali terbetik dalam gelombang kesadaran atas ancaman kerusakan bumi lewat perubahan iklim. Mengapa iklim bisa berubah? Sebab terjadi pemanasan global (global warming). Pemanasan global terjadi karena lapisan ozon menipis.

Ancaman terhadap Bumi

Akibatnya, terjadi perubahan iklim dari iklim normal ke kondisi iklim yang ekstrim.  Akibat anomali iklim, berbagai belahan dunia menerima dampak. Misalnya ketidakseimbangan musim hujan dan kemarau. Banyak terjadi bencana, banjir dan longsor di mana-mana, angin topan atau badai atau angin puting beliung mengakibatkan malapetaka di mana-mana.  Akibat penyimpangan musim, umat manusia akan menghadapi ancaman krisis pangan.

Pemanasan global berdampak langsung pada terus mencairnya es di Kutub Utara dan Kutub Selatan. Sesuai data 2007, es di Greenland yang telah mencair hampir mencapai 19 juta ton. Volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang ada 4 tahun sebelumnya.

Beberapa prediksi awal yang pernah dibuat sebelumnya memperkirakan bahwa seluruh es di kutub akan lenyap pada tahun 2040 sampai 2100. Tetapi data es tahunan yang tercatat hingga tahun 2007 membuat mereka berpikir ulang mengenai model prediksi yang telah dibuat sebelumnya.

Mencairnya es di Kutub Utara dan Kutub Selatan berdampak langsung pada naiknya level permukaan air laut. Para ahli memperkirakan apabila seluruh Greenland mencair, level permukaan laut akan naik sampai dengan 7 meter. Jika ini terjadi, akan menenggelamkan pantai-pantai dataran rendah dan pulau-pulau kecil di seluruh dunia.

Pemanasan global juga mengakibatkan gelombang panas makin sering terjadi.  Suhu gelombang panas tertinggi, dialami wilayah Amerika Serikat pada tahun 2007. Pada tahun 2003, Eropa bagian Selatan juga pernah mendapat serangan gelombang panas hebat ,  mengakibatkan sekitar  35.000 orang meninggal dunia.  Perancis merupakan negara dengan korban jiwa terbanyak karena tidak siapnya penduduk dan pemerintah setempat atas fenomena gelombang panas sebesar itu. Di Asia, khususnya Indonesia, kita baru mengalami udara yang panas dan gerah, tetapi tidak tertutup kemungkinan suatu saat nanti juga kita juga ditimpa gelobang panas.

Sebagai Negara kepulauan, dampak serius perubahan ilkim ke depan adalah naiknya permukaan air laur. Sesuai hasil penelitian yang dilakukan Susandi dari Dewan Nasional Perubahan Iklim, hingga tahun 20100 nanti, Indonesia akan kehilangan 115 pulau. Selain itu, wilayah pemukiman atau kota-kota yang berada di dataran rendah seperti Jakarta, sebagian wilayahnya akan terendam ditelan air laut.

Karena itu, pada momentum Hari Bumi ini, patut direnungkan. Meski demikian, untuk menyelamatkan bumi, tidak hanya sekadar sampai pada tahap perenungan.

Kini bumi tempat manusia dan makhluk hidup berkembang, membutuhkan upaya untuk menyelamatknnya dari proses menuju ambang kehancuran.  Kesadaran menyelematkan bumi mestinya menjadi kesadaran bersama, dan kesadaran bersama lahir dari kesadaran masing-masing individu.

Bekontribusi Menyelamatkan Bumi

Berkontribusi menyelamatkan bumi, tidak harus dengan punya banyak uang, atau lewat proyek dan pekerjaan besar. Cukup dengan mengubah pola hidup kita yang boros energi ke gaya hidup hemat energi, akan memberikan kontribusi besar dalam upaya menyelamatkan bumi.

Upaya itu, misalnya menggunakan energi listrik berupa  lampu atau peralatan elektronik secukupnya, tidak membiarkan lampu tetap menyala atau tidak dibutuhkan. Tidak membiarkan pesawat televisi tetap menyala kalau tidak ditoton. Menggunakan pedingin ruangan (AC) di kantor atau di rumah degan secukupnya, sesuai kebutuhan. Menggunakan air secukupnya sesuai kebutuhan. Selain itu, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, bila ada kendaraan alternatif misalnya bersepeda atau kendaraan umum.  Menggunakan kemasan barang-barang yang bisa didaur ulang.

Serta paling penting adalah menanam pohon. Jika di halaman rumah kita ada lahan yang memungkinkan untuk menanam pohon, maka tanamlah pohon. Menamam pohon bisa menemukan manfaat besar, karena ketika kita menanam sebatang pohon, selain akan menjadi tempat berlindung yang nyaman dari panas, juga akan memperoleh manfaat amaliah, karena pohon yang kita tanam akan terus-menerus menyerap emisi dari buangan gas di udara, yang akan memberikan manfaat kesehatan kepada kita dan juga kepada orang banyak, dan mahkluk hidup lainnya, yang sudah tentu berkontribusi pada penyelamatan bumi. (mustam arif)*

Iklan