Hari ini kita menapaki awal tahun. Kita memasuki satu dasawarsa abad ke-21. Kini bumi dirongrong perubahan iklim. Umat manusia terancam bencana rutin. Kita baru menyadari kerusakan di muka bumi ulah manusia. Tetapi kemudian, betapa sulitnya membangun kemauan untuk menyelematkan bumi dan lingkungan.

Penduduk bumi mengusung kesadaran, tetapi masing-masing mempertahankan kepentingan. Negara-negara maju menekan… negara-negara miskin dan negara-negara berkembang dalam kesepakatan mengurangi emisi, dengan sikap ambiguis.  Di satu sisi berkomitmen mengurangi emisi dan menekan  laju tutup hutan (deforestasi), tetapi selalu mengutamakan kepentingan industri. Mempertahankan tutupan hutan bukan dengan menjaga hutan, tetapi mengonversi dengan ekspansi perkebunan monokultur skala besar yang justru mempercepat degradasi fungsi hutan.

Di sisi lain, negara-negara  maju terus memacu industri yang memproduk emisi. Lalu, betapa tidak adilnya, produk industri hedonis  perusak lingkungan itu justru menjadi konsumsi lux  buat penduduk bumi di negara-negara miskin dan berkembang yang masih memiliki aset ekologis untuk keberlanjutan bumi. Produk-produk itu lalu menyumbang gas perusak ozon dan menguras habis potensi bahan bakar berbasis fosil.

Kini kita justru mengekspolitasi kesadaran ekologis. Kerusakan ekologis yang berdampak pada bencana alam lantaran terjadi perubahan iklim, justru menjadi industri baru. Isu perubahan iklim kini menjadi proyek global yang menjelma ladang baru untuk ajang kepentingan.

Dalam momentum tahun baru, mestinya kita menjadikan tonggak kesadaran, sekurahgnya-kurangnya pada diri masing-masing dan daam lingkungan terkecil yakni keluarga. Kita kini memasuki kesadaran menanam pohon. Meski itu baru kesadaran semu, lantaran kerap ditumpangi dengan motivasi-motivasi politik dan lain-lain, tetapi sekurang-kurangnya sudah mulai membuka mata-hati kita bahwa menyelematkan lingkungan, menyelematkan bumi menjadi tanggungjawab bersama.

Sebab kini kita telah memasuki masa bencana rutin. Kita mesti menyadari menanam dan menjaga sebatang pohon, sama halnya membangun rumah ibadah. Sebab satu pohon yang kita tanam dan menjaganya, berkontribusi untuk menyerap karbon sepanjang hidup pohon itu. Demikian berkontribusi menyelamatkan bumi dan isinya. Pohon yang terus menerus menyerap karbon dan akarnya-akarnya menahan gerusan bumi, laksana amal kebaikan yang terus mengalir. Menanam pohon berbarti beramal pada kelestarian lingkungan. (mustam arif/1/1/2010)

Iklan