Negara-negara industri  (kaya) memberi  gelagat ‘’membunuh’’ Protokol Kyoto pada Konferensi Parapihak untuk Perubahan Iklim (Conference of Parties/COP 15) di Kopenhagen, Denmark. Jika ini benar, berarti komitmen pengurangan emisi ke depan hanya akan menjadi impian hampa. Negara-negara pemilik hutan akan terus menghabisi hutan, sementara negara-negara industri  akan tetap memacu industri yang memproduk emisi gas rumah kaca. Dunia bakal tidak terselamatkan dari ancaman pemanasan global.

Dalam pasal-pasal Protokol Kyoto, ditetapkan bahwa negara-negara industri wajib mengungrangi emisi gas rumah kaca pada tahap awal hingga 2012. Namun, bukan berarti …kesepakatan internasional itu lalu dimatikan ‘’jiwanya’’. Kesepakatan kedua akan dinegosiasikan dengan tetap pada komitmen awal yakni kewajiban mengurangi emisi.

Dikhawatirkan, jika ada upaya negara-negara maju untuk mengganti Protokol Kyoto dengan kesepakatan yang memenuhi kepentingan Negara-negara industri.

Untuk, Senin lalu, negara-negara berkembang mengancam akan memboikot pembahasan iklim, jika negara-megara industri sibuk bernegosiasi yang tidak menguntungkan keinginan Negara-negara berkembang untuk membuat target jangka panjang dalam pengurangan emisi.

Negara-negara berkembang ingin memperpanjang Protokol Kyoto. Dalam protokol  itu tegas  memberi sanksi bagi negara-negara kaya jika mereka tidak memenuhi batas emisi yang ditentukan. Negara-negara berkembang menilai masalah sanksi ini akan didorong menjadi agenda utama ketika hadirnya 110 pemimpin negara pada COP 15.

Negara-negara berkembang dan negara-negra miskin di Afrika yang dipelopori Cina dan India tetap mendorong  kesepakaan tegas untuk target riil pengurangan emisi. (mustam arif/15/12/2009)

Iklan