Tarik-ulur kepentingan membuat Konferensi Parapihak untuk Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark (COP 15) makin tidak menarik. Memasuki hari keempat, konferensi PBB yang dilaksanakan hingga 18 Desember 2009 ini, negara-negara maju kembali menunjukkan ketidakseriusan. Negara-negara kelompok Uni Eropa yang memproduk emisi terbesar itu justru tidak mau berkomitmen jangka panjang. Sementara negara-negara industri itu justru menakan negara-negara berkembang untuk mempertahakan hutannya. Ini sebuah ketidakadilan. Seriuskah meraka ingin menyelematkan bumi?…

Seperti diberitakan berbagai media, Uni Eropa pada pertemuan di Brussels, Belgia, memutuskan akan mengucurkan dana adaptasi perubahan iklim 3,6 miliar dollar AS per tahun hingga tahun 2012. Keputusan ini dinilai sebagai taktik dari negara-negara maju untuk menghindari tanggungjawab penyelamatan bumi.

Langkah ini membuat China sebagai salah satu negara industri yang berkembang di Asia berekasi keras.

”Ini bukan kunci jawaban. Sungguh mudah bagi negara maju memberikan janji untuk bantuan jangka pendek selama tiga tahun. Namun, apa yang akan bisa kita perbuat setelah tiga tahun?. Padahal, orang mengatakan kita harus membuat komitmen dengan target 2050,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri China He Yafei, seperti dikutip Kompas.

Komitmen itu adalah pengurangan target emisi yang disepakati G-20, yaitu pengurangan emisi 50 persen pada tahun 2050 dari level emisi gas rumah kaca tahun 1990. Bantuan kompensasi berupa pendanaan itu untuk program adaptasi perubahan iklim di negara-negara berkembang seperti yang tergabung pada Aliansi Negara Pulau-pulau Kecil (AOSIS).

Pertarungan kepentingan terjadi saat awal konferensi. Negara-negara dalam AOSIS mengusulkan adanya komite adaptasi dalam sebuah protokol baru. Komite itu di antaranya bertugas melaporkan program adaptasi dan pendanaan yang dibutuhkan negara berkembang.

Namun, komitmen ini tidak disetujui negara-negara Arab yang tidak memiliki hutan. Mereka menilai skema pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD) hanya menguntungkan negara-negara pemilik hutan. Arab mengusulkan pola adaptasi dengan memasukkan teknologi menangkap dan menyimpan karbon dioksida (carbon capture and storage/CCS). (mustam arif/12/12/2009)

Iklan