‘’Malino Digaruk, Makassar Terancam’’.  Kalimat ini mengingatkan kita pada laporan khusus CAGAR Edisi September 2003.  Bila CAGAR harus menyorot tema ini menjelang ujung tahun 2003, bukan karena faktor kebetulan. Bukan pula karena faktor  kawasan wisata bersuhu dingin ini cukup terkenal.

Pembedahan ini didorong sebuah kekhawatiran. Betapa wilayah di lereng Gunung Bawakaraeng ini memendam bahaya. Bencana itu terajut perlahan-lahan sejak puluhan tahun dan kini menyentuh titik kulminansi…

Di kaki Gunung Bawakaraeng bukan hanya menyimpan keajaiban dan kegaiban alam, tetapi di perut bumi imenjadi areal yang dipuji itu ada hal-hal penting yang diabaikan manusia. Yah, lingkungan. Lingkuangan sesungguhnya harus menjadi pertimbangan manusia, bukan hanya pujian terhadap aneka karunia dan kebesaran Allah di atasnya, tetapi bagaimana merawat karunia yang terabaikan.

Di kaki gunung Bawakaraeng ada dua hal. Pertama, tekstur bumi di wilayah ini adalah material purba, sisa-sisa magma gunung berapi yang pernah meletus ribuan tahun silam. Kondisi ini membuat sebagian wilayah menjadi tanah mati yang tidak bisa subur ditumbuhi pepohonan. Lapisan tanah dan material itu setelah lama berproses, pelahan-lahan akan mencapai tingkat pelapukan. Ini berarti ancaman longsor harus diterima sebagai konseskuensi alamiah.

Kedua, kondisi alamiah yang tidak menguntungkan in, kemudian bukan dicegah, tetapi didorong campur tangan manusia. Ternyata aktivitas itu bukan menyangga proses pelapukan material di lereng, melainkan secara perlahan-lahan menambah beban alam dengan merusak siklus ekologis penyangga.

Bila kemudian, tanggal 26 Maret 2004, musibah itu datang. Orang menyebutnya, murka di kaki Gunung Bawakaraeng. Lumpur bah datang tiba-tiba yang menyapu rautsan hektar sawah dan kebun, mengubur 33 nyawa manusia, menenggelamkan sebagian pemukiman, ratusan orang kehilangan tempat tinggal dan harta benda.

Bukan hanya itu, ketika aliran lumpur itu telah menutup lembah yang bermula di Dusun Lengkese, Desa Maningbahoi, Kecatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, penduduk kota Sungguminasa dan Makassar panik. Ini wajar saja, karena bila aliran longsor itu mengalir turun lalu menutup Dam Bilibili kemudian meluap, maka kota Sungguminasa Makassar tenggelam.

Meski laporan khusus CAGAR Edisi September 2003 adalah sebauh kekhawatiran, tetapi keprihatinan itu ternyata telah menjadi kenyataan. Betapa tidak, yang terjadi di kaki Gunung Bawakaraeng adalah konversi lahan dari pepohonan penahan dan penyimpan air menjadi lahan holtikultura dan aneka perkebunan bisnis terhampar luas, menganga ke udara tanpa hambatan. Di sana pohon-pohon pinus penyangga bukit-bukit lenyap terlibas, lalu yang tumbuh adalah tembok-tembok hotel, vila dan penginapan milik orang-orang yang bermukim di Makassar.

Tragedi Jumat 26 Maret 2004 adalah peringatan bagi kita yang mengabaikan keseimbangan lingkungan. Selama ini kita sama-sama merusak lingkungan di kaki Gunung Bawakaraeng lalu saling menyalahkan. Peringatan agar kita sama-sama menyadari dan berbuat untuk menyalamatkan kawasan Karaenglompo alias Bawakaraeng dan Lompobattang. **

Iklan