Latest Post

Tondano dan Limboto, Menyelamatkan Sumber Kehidupan

Danau-Tondano2

Danau Tondano

BANYAK orang mengenal Danau Tondano dan Danau Limboto. Menyebut Danau Tondano, pikiran orang tertuju pada objek wisata eksotik di jazirah utara Pulau Sulawesi. Danau Limboto,menjadi ‘’land mark’’ Kota Gorontalo. Namun, tidak banyak yang tahu, kalau dua danau itu sedang mengalami degradasi daya dukung lingkungan serius. Ini berarti sumber kehidupan di Tondano dan Limboto terancam.

Pendangkalan akibat sedimentasi serta pengundulan hutan tak terbendung di seputaran Daerah Aliran Sungai (DAS), terus menggerus fungsi Tondano dan Limboto. Belum lagi, laju pertumbuhan gulma air (eceng gondok) yang tak bisa dibendung menutup permukaan danau. Padahal, di hamparan air kolam alamiah ini menjadi sumber rezeki masyarakat berupa ikan, dan aneka biota, sumber air baku dan irigasi, serta pembangkit listrik menerangi hampir sebagian besar wilayah Sulawesi Utara.

Danau Tondano berada di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Danau ini dimuarai Sungai Tondano dan 34 sungai lainnya.

Peneliti Euthalia Hanggari Sittadewi (2008) dari Pusat Teknologi Lahan Kawasan dan Mitigasi Bencana, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menyatakan luas perairan Danau Tondano bervariasi yakni sekitar 46 km2 pada musim kemarau dan 51 km2 pada musim hujan, sedangkan lingkaran Danau Tondaano pada posisi normal sekitar 35,5 km. Baca lebih lanjut

Iklan

Arsip Tulisan

Language Option

Instagram

KALEDO Kuliner ini menjadi "icon" Sulawesi tengah. Ke Palu, rasanya kurang lengkap, bila tak menikmati kaledo.
Masakan ini menyerupai sop buntut. Seperti sop konro di Makassar. Bahanya tulang kaki sapi atau kambing. Karenanya disebut Kaledo (Kaki Lembu Donggala). Meski diakronimkan demikian, kaledo bukan karena berasal dari Donggala.
Kaledo punya sejarah panjang, buah peradaban etnis Kaili dan Kulawi di lembah Palu. Awalnya, bahan kaledo dari aneka hewan. Tetapi, setelah masuknya agama Islam, kaledo selalu terbuat dari kaki sapi atau kambing. 
Menyejarah dari masa ke masa, kaledo berasimilasi dengan perubahan rasa dan selera. Kini dampingan kaledo tidak hanya singkong (ubi kayu) rebus, tetapi juga nasi. Kini bumbu dasar kaledo bukan hanya asam muda, garam dan cabe hijau. Kaledo telah "kompromi" dengan bumbu masak modern. Kaledo kini bukan hanya tulang kaki lembu, ketika dinikmati, sumsumnya diisap dengan pipet sedotan. Kita bisa memesannya berupa daging saja. 
Kaledo pun diekspansikan ke meja rumah makan dan restoran. Di seputaran jembatan panjang pantai Kota Palu, ada nama restoran kaledo yang terasa canggih. Kaledo Stereo namanya. 
#kaledo #palu #kulinersulteng #makanantradisional

KALENDER

Desember 2017
S S R K J S M
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Twitter Terbaru

%d blogger menyukai ini: